Cek, Farhan mana? Berapa orang ini yang tidak ada? Najwan mana? Susu, harus ikut. Semua pengabdi harus ikut. Tidak boleh tidak ada yang ikut, harus ikut setiap hari Sabtu itu.
Belum mandi lagi, sudah mandi belum? Sudah?
Harus jadi pelajaran untuk para pengabdi berikutnya. Yu, kelas 6, semua. Saya mau setiap hari Sabtu justru turun semuanya, ikuti upacara. Semuanya harus ada menyaksikan berlangsungnya disiplin setiap hari Sabtu.
Hari Sabtu di waktu baiat itu adalah hari di mana setiap santri dievaluasi kedisiplinannya. Semua murabbi-murabbiah, para pengabdi, semuanya harus mengikuti kegiatan baiat. Pahami apa yang disampaikan di dalamnya.
"Tidak harus ceramah sebetulnya. Cukup dengan dari mulai 'Oh Pondokku', 'Indonesia Raya', 'Pancasila', diakhiri dengan baiat di sini, di depan."
Dengan baiat RGU-G, beberapa poin, itu merupakan tausiah inti. Tidak harus bicara sebetulnya. Di dalamnya sudah menyangkut untuk semuanya, bukan untuk santri. Kalimat "An uti'a ustadzi", kalimat itu untuk semuanya, untuk ana. "An uti'a ustadzi", saya harus taat kepada ustadzku, berarti kepada pimpinanku. Antum kepada siapa? Antum kepada siapa?
"An abirral walidain", apakah untuk antum saja berbakti kepada orang tua? Lah, tidak! Saya pun sama punya orang tua, harus berbakti kepada orang tua. "An la atakhashoma", apakah ini untuk antum semua? Tidak, semua! Makanya perhatikan, cukup dengan antum baiat, tidak harus tausiah sebetulnya. Tausiah hanya mengingatkan saja, diingatkan kembali makna dan maksudnya apa.
Maka perhatikan, sudah seyogianya seluruh penduduk yang ada di Al-Firdaus setiap ada baiat ikut semua mengikuti kegiatan baiat ini. Aribai'un itu jual beli. Baiat itu jual beli. Antum pada hari ini mengadakan jual beli dengan Allah SWT dengan apa yang diucapkan tadi. Kalau Indonesia Raya apa maknanya? Harus cerdas. Antum menyanyikan Indonesia Raya, Pancasila, harus cerdas apa maknanya. Kita harus menasionalkan Firdaus, begitu maknanya.
Sehingga antum mawas diri ketika mau melaksanakan kejelekan, "Eh sebentar, kalau saya jelek, Al-Firdaus tidak akan menasional ini, saya harus baik." Begitu. Sehingga langkahnya antum, langkah Al-Firdaus. Surganya, surga Al-Firdaus.
Semua santri RG harus bisa begini, tegak, bukan hanya dia. Jadi yang berdiri di sini bukan hanya antum, semua kapaypay. Semua terjadwal, mau bisa ataupun tidak, latihan. Bukan hanya segelintir orang. Kenapa? Karena di sini adalah tempatnya untuk latihan. Di Al-Firdaus tempatnya untuk latihan, di Al-Firdaus tempatnya untuk pembentukan. Pembentukan karakter watak yang baik.
Nih yang MC, yang pegang itu semua kebagian semuanya. Nah, berarti ini pembina lajnah, juga para pengabdi, perhatikan itu. Ini kenapa tidak komplit, ke mana? Sakit? Kalau sakit mudah-mudahan sembuh, kalau tidak sakit jadi sakit nantinya. Hayo bagaimana itu?
Awas ya, jangan hidup dalam kepura-puraan. Antum harus baik. Kata Rasulullah: "Alaikum bissidqi", kalian harus berbuat jujur dan benar. Karena antum hidup berdiri di atas ketegakan kebenaran, kejujuran, maka semuanya akan ditunjukkan kepada kebaikan, dan seluruh kebaikan akan menuju kepada jannah.
"Iyyakum wal kadziba", hati-hati dengan ketidakjujuran, ketidakbenaran, ketidakbaikan. Karena ketidakbaikan itu menunjukkan kepada fujur, kejelekan, dan kejelekan itu langkahnya akan menuju kepada kehinaan.
Jadi kalau antum satu kali bohong, sebetulnya antum tidak sakit kemudian antum tidur, maka kebohongan itu akan diikuti dengan kebohongan yang kedua. Kemalasan yang pertama akan diikuti dengan kemalasan yang lainnya. Lakukan kebaikan, karena kebaikan satu kali antum lakukan itu ketagihan. Ketika antum baca Qur'an betul-betul tulus, maka satu kali baca Qur'an akan ketagihan. Antum tidak akan pernah meninggalkan Qur'an. Sholat khusyuk saja satu kali coba antum, kekhusyukan yang pertama akan diikuti oleh kekhusyukan yang kedua.
Tapi kalau antum sudah tidak khusyuk yang pertama, maka sholat yang keduanya otomatis bakal acong-acongan, bahkan akan merembet kepada sholat-sholat yang lainnya tidak akan disiplin. Akhirnya antum hidup tanpa arah. Bingung padahal pakai kopiah, padahal pakai jas, padahal pakai sarung, tapi hidup tanpa arah.
Padahal antum di sini 3 tahun, 4 tahun, untuk melatih menjadi orang-orang yang hebat. Ada target-targetnya, kami sampaikan target-targetnya: nih targetnya 15 juz, bukan 30 juz. Kita tidak terlalu banyak. Kenapa berat? Karena pada hari Sabtu ini antum niatkan hanya aktivitas biasa saja, hanya memenuhi menggugurkan kewajiban saja. Tidak dijadikan patokan pada hari ini adalah janji antum jual beli dengan Allah SWT. Makanya disebut di kita mah baiat, lain upacara. Baiat rijalul ghad ummahatul ghad, jual beli antum.
Ingat, antum bikin bala-bala, jualan bala-bala, jualan apapun itu rugi, kecuali jual beli dengan Allah SWT. "Lan tabur", tidak akan pernah rugi. "Tijaratan lan tabur", jual beli dengan Allah tidak akan pernah rugi.
Sampaikan lagi kepada istrinya. Bapak-bapaknya ikut Jumatan dikhotbahi, beres Jumatan itu langsung kembali ke rumah, harusnya ngumpul ngariung di rumah makan bareng. Di sana momennya menyampaikan nasihat yang tadi didengar. Ngaji yang wajib itu bapak-bapak semua ikut Jumat, dengerkan.
Awas ya antum ibu-ibu, jangan seragam hatinya gimana ini teh? Obrang-abring teh mentingkeun seragam, henteu seragam hatena.
Ngaji yang wajib itu yang barusan, beres Jumatan itu pulang langsung si bapaknya teh. Orang tua dulu sudah budaya begitu. Di rumah itu sudah siap si ibu teh masak, bahkan semua yang ada dipanggil itu, dibahas kembali yang tadi dibahas oleh khatib itu. Jadi si khatib itu betul-betul membawa oleh-oleh. Sampaikan.
Nah, bagaimana dengan karyawan misalkan di pabrik? Ya nanti atuh pas pulang ke rumah itu sudah menjadi budaya pada hari Jumat. Misalkan pulang ke rumahnya malam, Maghrib, sudah ngariung makan bareng. "Teteh dengerin tadi waktu Papa ikut khotbah Jumat..." Sampaikan lagi. Itu tausiah rutin tiap minggu. Itu ngaji yang wajib diikuti oleh umat muslim.
Ubah oleh antum langkahnya. Mereka mungkin tidak melaksanakan baiat kayak begini, kita baiat kayak begini. Cukup kata-kata yang barusan dari awal, yang antum ucapkan dari mulai awal sampai akhir baiat barusan, cukup itu adalah nukilan-nukilan mutiara dari Al-Qur'an, cukup dilaksanakan.
Hadirkan hati betul-betul dikelola hatinya setiap minggu. Tidak ada yang kedua, ketiganya adalah setan. Artinya kita merasa diawasi oleh Allah SWT. Ketika di warung antum ada berdua dengan yang jualan, nu jualanna melong ka ditu, ceuk antum teh: "Teu ningalieun, teu ningalieun, cokot Darmadji (Dahar lima ngaku hiji)." Padahal Allah yang ketiganya.
Persiapkan diri, sebentar lagi antum akan menghadapi ujian. Diperkirakan Ramadhan itu sudah masuk kepada ujian. Yang kelas 6, Ramadhan itu rangkaian ujian sudah dimulai. Yang belum karya ilmiah, cepat-cepat! Karena laptop bisa jadi ditarik lagi oleh orang tua kamu supaya dikembalikan.
Itu saja yang dapat disampaikan. Aqulu qouli hadza wa astaghfirullahu li walakum. Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.