Transkrip Kajian & Penjelasan Kurikulum
Baik para santri, rijalul ghad dan ummahatul ghad. Di malam ini, insya Allah kita akan membahas terkait Manhaj Dirosi yang ada di Pondok Pesantren Al-Firdaus. Diharapkan jangan ada yang melamun, konsentrasi ke depan. Karena di satu tahun ke belakang, ana sudah jarang menyampaikan ini. Padahal ini adalah sangat penting, baik disampaikan di depan guru, santri, ataupun di hadapan warga Al-Firdaus. Jadi, semuanya harus tahu apa itu Manhaj Dirosi.
Saya akan menerangkan tentang "jalan". Jika antum tidak ada jalan raya ini, tidak akan sampai ke sini dengan cepat. Sampai sih mungkin sampai, tapi bisa jadi tangannya patah, kakinya jelek, atau bahkan tidak sampai ke sini karena antum terperosok. Tidak kebayang kan? Antum orang mana? Bogor? Coba dari Bogor ke sini jalan kaki, kebayang tidak?
Nah, inilah jalan. Kalau semua tidak tahu jalan atau misalkan tidak punya jalan, maka hal mustahil kejadiannya akan seperti yang saya sebutkan tadi. Datang ke sini babak belur. Oleh karena itu, semua harus paham, baik Murobbi, Murobbiyah, dan santri—termasuk santri itu wajib paham. Kenapa santri di sini bikin masalah? Baru juga satu tahun sudah pacaran, baru juga satu tahun sudah bikin masalah (rambut tidak dicukur, susah diatur)? Nah, karena dia tidak tahu jalan.
Termasuk Murobbi dan Murobbiyah, termasuk gurunya. Kenapa gurunya belok atau melenceng saat mengajar? Mengajarnya entah ke mana, tidak pakai hati. Kenapa? Karena tidak tahu jalan yang akan ditempuh. Jalan ini sangat menentukan: mulus atau banyak lubang.
Sama halnya dari Tasik bawa pasir ke sini, tapi jalannya berlubang dari Tasik sampai sini. Itu berapa ban yang habis? Bisa-bisa ban meledak, harus ganti ban. Pasir yang harganya Rp700.000 satu kontainer, ongkos kirimnya dari sana ke sini bisa membengkak sampai 10 juta. Kenapa? Baru keluar dari tempat pasir saja sudah meledak dua ban. Di tengah jalan meledak lagi bagian depannya, as roda patah, keluar uang lagi. Pokoknya jalan ke sini, pasir yang awalnya berharga sekian, jatuhnya bisa jadi 15 juta. Ya karena tadi ongkosnya membengkak akibat jalannya berlubang, tidak mulus seperti jalan raya yang seharusnya.
Kecepatan sekarang 120 km/jam, 140 km/jam masih kuat. 180 km/jam kuat. Sampai 300 km/jam pun mampu, melesat sampai tidak kelihatan siapa yang lewat barusan. Berapa menit dari Tasik ke sini kalau kecepatannya segitu? Lihat, betapa pentingnya manhaj, pentingnya jalan, pentingnya kurikulum. Makanya, antum harus paham. Yang tidak paham lebih baik keluar, termasuk Murobbi dan guru-guru. Kalau tidak paham, mending keluar. Kenapa? Nanti merusak pesantren.
Harus tahu jalan ini, baik yang Tsanawiyah (Sanawiyah) maupun yang TMI (Tarbiyatul Mu'allimin Al-Islamiyah).
Mari kita lihat gambar ini, saya sering menyampaikannya ke antum. Ada empat gambar: paralon bocor, paralon dengan banyak sambungan yang bocor, ember bocor, dan ember yang tidak berlubang (nyangkut airnya).
"Gambar pertama apa itu? Paralon bocor. Gambar kedua? Sama bocor, cuma bedanya bocornya lebih banyak karena bocor di tiap sambungan sampai memancar deras. Gambar ketiga? Ember bocor, bawahnya sudah berlubang. Gambar keempat? Sama, airnya tidak penuh-penuh karena embernya tertutup atau bocor juga."
Ilustrasi ini sudah diisyaratkan oleh Rasulullah di hadis yang panjang tentang karakter tanah. Manusia hatinya diibaratkan seperti tanah. Ada tanah yang sifatnya seperti ember tadi; kalau dikucurkan air dia tidak menampung, menyerap habis airnya (seperti tanah kering/tanah liat tembikar). Ada juga tanah yang subur, semakin airnya turun, tanahnya menjadi subur. Hati manusia itu ada empat macam karakternya, dan ini berawal dari pemahaman kita dari awal.
Ini belum diedit oleh Ustaz Ari di bagian tengahnya, tapi intinya ada 5 titik. Antum harus tahu ada 5 titik pilar ini. Angkatan pertama saat keluar dulu ada yang mempermasalahkan, padahal sudah jelas pertama kali masuk sudah kami jelaskan bagaimana konsep Al-Firdaus, bagaimana jalannya, bagaimana lulusannya.
Perhatikan, ada lima titik yang harus dimiliki oleh santri. Begitu masuk ke TMI, ditesnya ini:
Dua ilmu utama yang dipelajari (Syar'i dan Ammah) sudah disebutkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an: "Wabtaghi fima ataka-llahud-daral-akhirah, wala tansa nasibaka minad-dunya". Carilah akhirat (Ulum Asy-Syar'i), namun jangan lupakan nasibmu di dunia (Ulum Al-Ammah). Jadi dua-duanya di Islam diperhatikan.
Kalau TMI, wajib ikut kegiatan sore. M2T (Murojaah, Tadarus, Tahfidz). Kapan waktu luangnya? Bisa jam 2 sampai jam 3. Ada waktu-waktu kosong selain daripada yang wajib, antum wajib membawa buku apapun yang berkaitan dengan yang dipelajari. Bawa bukunya! Mau buku IPA, Matematika, Nahwu, Shorof, Fikih, semuanya. Murojaah. Dibaca ulang.
Kedua, Tadarus. Yang utama baca Al-Qur'an. Buku yang dipelajari juga dipelajari ulang, itu namanya tadarus. Ketiga, Tahfidz (dihafalkan). Makanya lulusan Al-Firdaus keluar dari sini dia tidak bawa apa-apa tapi kepalanya hafal. Kenapa? Dipelihara. Dijaga. Apa yang dipelajarinya diamalkan, itu lebih terjaga lagi. Jadi hafalan yang paling kuat adalah amalan.
Kegiatan utama antum adalah menguasai bahasa. Di sini ada bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Sunda harus bisa. Orang Pagar Alam (Sumatera) bahasanya apa? Besemah. Berarti antum bisa lima bahasa hebat. Saya mau makan bahasa Sundanya apa? "Abdi hoyong tuang." Luar biasa. Kalau bahasa Arabnya, bahasa Inggrisnya, Indonesianya, Besemahnya apa? "Aku nak makan." Coba bayangkan, antum bisa lima bahasa!
Dasarnya adalah "Li Ta'arofu" (untuk saling mengenal). Untuk mengenal makhluk yang ada di dunia ini. Mau bagaimana antum menginjakkan kaki di Amerika kalau bahasa Inggrisnya tidak bisa? Seperti kata Ustaz Fahmi: "Jangan harap kamu bisa berkunjung ke negara orang lain kalau antum tidak belajar bahasa itu sendiri."
Tahun ini Ustaz Ihsan menawarkan ada yang mau jadi imam di Amerika selama bulan Ramadan? Syaratnya: wajib aktif bahasa Inggris. Waktu bicara kita di sana kabeh seuri (semua tertawa). Makanya di Al-Firdaus, antum semuanya adalah orang-orang yang insya Allah bisa menguasai berbagai bahasa.
Jangan sampai melupakan target ini karena ini merupakan modal utama. Modal yang akan menerangi hati antum. Tempelkan paku dalam dadamu bahwa hafalan yang 15 juz (untuk TMI) atau 7 juz (untuk Tsanawiyah) ini adalah modal. Jangan jadikan ini beban! Kalau antum sudah jadikan ini beban, tertutuplah hatinya. Terbuka itu artinya harus kemauan sendiri, punya target, buka hatinya. Itu yang akan memudahkan hafalan.
Paling tidak, calon-calon ulama antum bekalnya 15 juz. Siapa penerusnya? Antum semua. Tidak ada oleh-oleh dan warisan terbaik dari pesantren buat antum semua kecuali adalah Al-Qur'an. Jika antum menjaga modal itu sebagai warisan dari orang tua yang diberikan di sini, maka warisan itu akan berkembang. Tapi jika tidak taat dan melupakan warisan itu, hilanglah sudah, habis tak berbekas.