Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh, amma ba'du.
Insya Allah, setiap hari Sabtu atau Ahad, ketika ada jadwal fatrah shobahiyah dua, ana di sini, itu dipastikan ada tausiyah seperti ini. Maka yang salat di Itishom, berhenti salatnya semua di sini, termasuk pengabdian.
Nah, insya Allah yang akan dibahas salah satu di antaranya adalah sebagai evaluasi QMT. Ana akan cek, betul tidak antum ada hasilnya QMT itu? Ana lagi nyusun khusus buku catatan QMT. Dalam satu semester itu, antum harus ada paling sedikit mempunyai enam tulisan untuk bahan khutbah, hasil dari analisis antum di kegiatan QMT. Hasil penelaahan antum di kegiatan QMT.
Yang kedua, nanti ba'da zuhur ini, khusus di hari Sabtu, akan diisi terkait bagaimana supaya antum punya pandangan ke depan. Jauh lebih mantap, supaya antum tidak tergoyahkan tinggal di Al-Firdaus ini, tidak tidur. Tidur dalam artian melamun, tidak punya tujuan. Jadi ana ingin menggugah antum semuanya, jangan sampai diam di sini hanya numpang tidur saja. Harus punya mimpi ke depan, harus punya cita-cita mewujudkan mimpi itu.
Dan yang paling utama lagi adalah antum menjadi anak yang saleh yang bisa membanggakan orang tua. Karena antum di sini tuh tidak murah. Buat orang tua antum itu luar biasa perjuangannya. Ada yang jualan tengah poe (siang bolong) jam segini, ereng-erengan jualan ngadorong roda, manggul, dan sebagainya. Yang diam di jongko, di toko, panas, ngebul. Antum di sini duduk, jajan, jajan ringan di kelas, di warung jajan. Jangan sampai begitu! Suntik jarumnya saja segede gini tah, suntik!
Nah, insya Allah begitu, termasuk nanti juga para pengabdi. Ana ingin betul-betul antum fokus di kegiatan belajar sampai antum membentuk diri menjadi orang hebat. Keluar dari Al-Firdaus, jadi apapun antum siap. Jadi petani, petani yang produktif. Bahkan saya menganjurkan antum nanti harus ada yang melek kepada pertanian. Karena antum bisa makan itu, kita bisa bergerak begini ya dari pertanian, beras. Bagaimana itu? Antum tidak punya lahan, sekarang sudah modern. Ada paralon, ada bambu, depan rumah antum bisa jadi sawah tuh. Hasil apa itu? QMT lah!
Tausiyah: Saya menciptakan QMT ini tidak mudah, berdarah-darah, harus keliling dunia. Keliling dunia lewat apa? Lewat membaca lah, membaca saja tidak perlu ke Amerika kita mah, baca saja gitu. Sehingga muncullah QMT, bagian daripada islamisasi; segala hal yang berbau-bau luar diislamisasi. Jadi kalau antum nanti waktu di SD, waktu di MI, atau antum pernah mendengar terkait tentang literasi, coba literasi itu apa di dalamnya? Membaca dan menulis.
Ana itu satu, mengadakan analisis. Dianalisis. Setelah dianalisis, berarti kan ini munculnya QMT nih, didesain. Didesain itu dirancang. Setelah dirancang, development, dikembangkan. Setelah dikembangkan, dievaluasi (evaluation). Setelah dievaluasi, implementation, diimplementasikan dulu baru dievaluasi. Lima langkah ana melakukannya itu.
Pertama analisis dulu, bagaimana nih pondok pesantren ini, bagaimana kebutuhannya? Oh, anak-anaknya cerdas-cerdas semua. Antum itu masuk ke Al-Firdaus itu tes. 500 yang tes, yang diterima 240. Zaman angkatan antum 300, yang diterima 140. Oh, ini bibit-bibit unggul nih. Makanya kalau saya tidak berinovasi, sayang (lebar), ini barang bagus ini. Makanya hasil dari analisis, kemudian didesain, bagaimana rancangannya yang cocok buat kondisi di Cipatat, apa yang dibutuhkan? Kemudian dikembangkan (development), diimplementasikan (implementation). Implementasi yang pertama itu ke Murobi diimplementasikan. Setelah dievaluasi, oh mantap, terapkan! Begitu.
Nah, di kegiatan QMT ini harus tersusun dengan rapi. Nah, Ustaz Ari dengan Ustaz Farhan ditunjuk penanggung jawab QMT. Ya, dari tiap kelas itu diperiksa. Nah, kerja sama dengan lajnah bagian pengembangan literasi... bahasanya jangan pengembangan literasi, jangan! Bahasa luar itu. Saya sudah islamisasi dengan Qiroah itu. Itu bahasa Qur'an itu. Saya ambil QMT itu dari 'Iqro'. M-nya? Surat Al-Waqi'ah 'Afa ra'aitum, afa ra'aitum, afa ra'aitum...' kan menelaah itu tuh. Kenapa saya menggunakan kata 'Mutolaah'? Kenapa? Karena 'Tala'al badru 'alaina...' siapa? Rasul. Artinya tala'a itu harus memunculkan sesuatu yang 'wah'. Mutolaah, dari hasil penelaahan muncul, apa? Talhis, sebuah tulisan rancangan.
Maaf ya, dari berkelana ana ke mana-mana, maka punya QMT, tah itu. Bisi antum nanya ustaz, mana bukunya ustaz? Mana bukunya kalau benar? Eh, bukan buku-buku lagi, kita mah yang merancang buku. Tidak perlu nulis kita mah. Itu QMT. Ya, jadi sama perangkatnya perangkat lunak, masukkan ke dalam hati, blep, blep... gitu ana mah. Ya, sudah. Langsung.
Awas kelas 4, antum sudah jangan bicara "mengisi waktu luang" lagi, sudah besar. Apa itu? "Luangkan waktu", bahasanya gitu sekarang. Kalau di Sanawiyah, sesukanya, karena mengisi waktu luang. Kalau di TMI, luangkan waktu. Artinya apa? Cari waktu, pakai waktu. Nah, kita sudah memberikan waktu yaitu jam 2 sampai jam 3, gunakan untuk penelaahan. Nah, maka nanti ana akan nagih ke antum dalam satu semester paling sedikit lima atau enam tulisan untuk bahan khutbah. Sudah gitu saja, 15 menitan gitu saja. Membahas apa. Makanya teman-teman antum lagi mempresentasikan Riyadush Shalihin, dengarkan tah. 'Ah, ini hebat nih mau dibahas ah.' Bulatkan. 'Oh, ini hadis yang saya cari...' cari, cari, teliti. Orang lain yang membacakannya, ente yang mencarinya. Oh, ini hadisnya, oh ini tafsirnya, oh ini. Tulis, susun, 15 menitan dengan pidato. Jadi 1 tahun antum punya bahan dakwah 12 atau 10 bahan khutbah, bikin buku beres. Hasil dari itu.
Nah gitu ya, jadi insya Allah setiap hari Sabtu jangan lewatkan untuk senantiasa ikut tausiyah.
(Menegur santri yang baru datang) Si Ujang dari mana ini, baru mau ditutup baru datang ini. Dari mana kamu? Hah? Tidak kedengaran. Innal hamda lillah... Dicuci, bukan dibanting-banting. Ya, duduk. Cepat, mau ditutup ya. Nanti sewaktu-waktu digabung dengan UG (Ulama Guru). Jika hari Sabtu di sini, mungkin besok mudah-mudahan hari Ahad di sana, di UG-nya. Begitu.
Yang terakhir. Perhatikan. Jangan dulu suka ke perempuan! Jangan. Jangan suka dulu ke wanita. Dan tidak boleh, haram hukumnya, curi-curi pandangan. Haram. Mending nanti minta dihalalkan. Curi, mencuri, itu mencuri itu. Ya, jadi antum mencuri pandangan, haram itu. Ya, mending nanti minta dihalalkan. Begitu. Sudah saja kamu, boleh sama ana diwajibkan punya pacar, silakan. Boleh, tak terbatas silakan. Saya dulu punya pacar, banyak pacar saya di Mualimin. Terutama waktu di Mualimin, uh banyak pacar saya. Yang pertama namanya Neng Jurumiyah. Neng Alfiyah. Neng Shorofiyah. Ya. Begitu, banyak itu. Kencani itu, kencani. Silakan tuh. "Hari ini saya mau berkomunikasi, bermesraan dengan Neng Shorofiyah, uh buka wazan..."
Nah itu bercengkerama dengan Neng Shorofiyah, Neng Jurumiyah, Neng Alfiyah. Ya. Ah, Al-Muyassar mah... weh sombong, sombong! Ya. Makanya antum di sini Al-Muyassar mah sudah harus kaketap (sangat mudah), clak gitu. Ustaz Robi tah, Ustaz di Al-Firdaus Al-Muyassar tamat? Tamat atuh. Wah, tidak akan ada pesantren yang menamatkan Al-Muyassar, tuh perhatikan. Orang lain mah sampai tidak akan ada, di kita mah hah kedip saja kita mah. Bukan satu tahunan, 3 bulanan, 2 bulanan, sebulan sudah tamat. Di QMT, tah gitu.
Nah, dan antum harus gemar, harus gemar baca. Ya, nah itu makanya ubah coba, apa itu tadi? Pengembangan literasi. Bahasanya coba apa itu? Pengembangan QMT, diislamisasi lah bahasanya. Kita kan sudah punya kebanggaan QMT, sudah saja pakai istilah itu menjadi baku. Ya. Nah cuma kemarin itu QMT itu gagal terbit publish jurnal. Padahal sudah disusun, sudah bagus dan sudah diakui sebetulnya. Ya, begitu. Nah itulah yang mengantarkan antum juara umum. Ya. Itu kelebihan dari QMT. Dipasang siapa saja yang mewakili lomba, alhamdulillah juara. Jadi Al-Firdaus tidak harus memilih yang pintar-pintar, simpan di mana saja... kenapa? Sudah pintar, semua sudah pintar. Kenapa? Semua baca. Kalau antum tidak baca, ya sudah begini.
Yang kedua silaturahim. Silaturahim itu nilainya sangat tinggi. Apa kata Rasulullah silaturahim itu? Man ahaba an yubsatho lahu fi rizkihi wa yunsa'a lahu fi atsarihi fal yashil rahimahu. Awas, kalau antum ingin diluaskan rezekinya, terus ingin dipanjangkan umurnya, silaturahim. Makanya kalau antum ada lomba harus mau, berlomba-lomba ingin ikut. Kenapa? Tujuannya ingin silaturahim. Kalau antum sudah mampu silaturahim, rezeki antum banyak nanti. Sekarang ataupun masa yang akan datang. Umurmu akan panjang, dikenang. Gitu, itu tujuannya, bukan sekadar ingin menang. "Kita mah ingin piala kita mah", hoho bukan atuh. Ya. Kita mah ingin juara di hati semua, begitu.
Itu saja yang dapat disampaikan. Syukran 'ala husni ihtimamikum. Aku qauli hadza wa astaghfirullaha li walakum. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim. Uridu an ulinakum hadza daur al-hadits al-jadid: