Transkrip Pengarahan Santri

Persiapan Studi Banding & Nasihat Kedisiplinan

Pembukaan

Cek. Hamdan wa syukron lillah, asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh, alladzi la nabiya wa la rasula ba'dah. Amma ba'd.

Puji dan syukur hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala. Insya Allah pada malam ini ada beberapa hal yang akan disampaikan.

1. Persiapan Menyambut Studi Banding

Yang pertama, pada hari besok insya Allah ada kunjungan, ada orang yang studi banding ke pondok pesantren kita, baik kampus 1 maupun kampus 2. Kunjungan pertama kita sambut di kampus 1. Setelah itu mereka nanti dibawa ke sini.

Nah, jadi harus ada persiapan dari kita, terutama terkait tentang kebersihan, kerapihan, kenyamanan, kesopanan, dan penyambutan yang baik. Karena mereka datang ke sini ingin mendapatkan oleh-oleh. Tidak ada oleh-oleh yang baik dan istimewa kecuali oleh-oleh yang dia inginkan sesuai dengan tujuannya ke sini, yaitu ingin studi banding untuk meningkatkan mutu pondok pesantren mereka setelah melihat pesantren kita.

Tapi kalau pas melihat ke sini mereka menemukan, "Oh, kok begini? Aduh kalau begini mah sama saja dengan pesantren kita," berarti ini tidak pas dijadikan tempat untuk studi banding. Berarti kita malu. Kenapa? Karena yang studi banding bukan hanya dia saja. Ini dari Pesantren Kujang, namanya Pesantren 109, Pesantren Tahfiz Quran Persis Kujang, Ciamis. Bahkan ada beberapa lagi.

Tadi ana sudah menyuruh ketua lajnah untuk persiapan. WC-nya harus bersih, asramanya harus rapi. Mereka ingin melihat bagaimana kondisi di pondok pesantren kita, baik dari A sampai Z-nya. Termasuk kepada seluruhnya: kurikulumnya, kegiatan santrinya, akhlak santrinya, kegigihan santrinya, kedisiplinan santrinya, dan kerapihan santrinya. Itu semua dinilai dan dilihat oleh mereka.

Itulah yang akan menjadi oleh-oleh yang akan dibawa oleh mereka. Diamati, kemudian kalau cocok dimodifikasi atau ditiru. Makanya jangan dikecewakan. Sambut! Senyum, salam, sapa. Senyum, kemudian antum salim, kemudian sapa. "Kaifa haluk, Ustaz?" atau pakai bahasa Inggris boleh, bahasa Korea boleh. Sekarang Korea lagi booming ya gara-gara si Shin Tae-yong.

Jadi tolong persiapkan, Ummahat persiapkan, Banat juga persiapkan. Itu depan kelas masih berantakan. Di pinggir WC rumputnya masih ada. "Oh Ustaz kan nuju ulangan," pan kelas 5 jeung kelas 4 mah henteu meureunan. "Ustaz, sami ujian tahfiz Quran," pan teu kabeh. Justru ieu teh sadayana, Ustaz. Nah atuh, pan can tamat hiji-hiji acan.

2. Evaluasi Kelas 8 & 9 (Daurah Tajwid)

Yang kedua, perhatikan terutama kelas 8. Siapa yang sakit? Yang tidak hadir sekarang di sini kelas 8 siapa? Tiga orang sakit. Perhatikan, sisanya tadi sudah mengikuti pembukaan Daurah Tajwidiyah. Jadi antum akan dibekali, dipersiapkan untuk menjadi angkatan yang lebih baik dari kelas 9 yang sekarang.

Apanya? Makanya di rangkaian Daurah Tajwidiyah itu ada Daurah Tatbiq. Nanti kalau ada kelas 7 nanya ke antum, "Kak, bagaimana ini tatbiq Quran tuh bagaimana cara menghafalnya?" Kitu weh ngapalkeun mah tah pake biwir, tah nya pake bujur, nya kitu weh ente nerangkeun teh. Ah, berarti ini dia tidak ikut Daurah Tatbiq Quran. Harusnya antum jadi kakak kelas yang baik, "Oh begini, coba baca Qurannya, begini tatbiq, terangkan!"

Makanya harus paham tuh Daurah Tatbiq. Kenapa? Karena antum bisa jadi di antara antum itu ada yang menjadi ketua kamar, ketua asrama, yang akan langsung berhadapan dengan adik kelasnya. Makanya jika di antara antum kelas 8 masih ada yang cengeng, nangis, tidak betah, ingin pulang, gagaro, gegetret, bagaimana kelas 7-nya nanti yang bertanya kepada antum?

3. Kedisiplinan & Sikap Tidak Bersyukur

Ada santri angkatan siapa tuh... tanya ke Murobbi tuh. Angkatan siapa? Lagi ujian dikeluarin. Berapa orang dikeluarin? Tiga orang. Dikeluarin itu di akhir-akhir kegiatan kelas 9, tidak dapat rapor, tidak dapat ijazah, langsung dikeluarin karena dia bikin masalah.

Jadi perhatikan, jangan bohong! Kami diam itu masih memberikan kesempatan karena kasihan orang tuanya merengek-rengek. "Ustaz, jangan, jangan dikeluarin Ustaz, mohon kasih waktu Ustaz, please," sampai ada orang tua yang sujud. Awas Khairul, makanya jangan macam-macam kamu. Macam-macam, keluarin nanti kamu.

Coba buktikan antum bisa berubah. Bahkan perhatikan, kelas 8 jangan ada yang macam-macam. Kamu baru juga kelas 8, perilaku kayak jagoan, susah diatur. Antum tidak bersyukur! Antum harus bersyukur berada di sini, di Al-Firdaus. Kenapa? Tidak semua orang mampu belajar di Al-Firdaus, ingat-ingat itu.

"Ternyata dia itu tidak percaya diri, takut tidak mampu masuk ke Al-Firdaus. Makanya antum ada di Al-Firdaus, kenapa tidak bersyukur? Berarti antum itu tergolong orang yang mampu."

4. Adab dan Berbakti kepada Orang Tua & Guru

Lamun antum teu taat karena tata tertib, ini bagian daripada durhaka kepada orang tua. Antum kan di sini, mau bagaimana durhaka kepada orang tua? Selama 4 tahun antum di sini, antum jarang bertemu dengan Bapak, Mama. Bagaimana cara berbaktinya?

Taat! Ana sampaikan kemarin, An uthi'a ustadzi, saya akan taat kepada ustadzku. Baru An abirra walidayya, saya akan berbakti kepada orang tuaku. Kenapa? Baktimu kepada orang tua tidak akan sampai menjadi kebaikan kalau tidak ada yang menyampaikan, yaitu guru. Makanya taati guru tuh!

Antum moal bisa birrul walidain, da antum bisa sampai ke birrul walidain itu ku lantaran aya nu nyadarkeun, nyaeta guru dari semua kajian-kajian. Baru antum akan wushul sampai kepada bakti kepada orang tua. Jadi balik ti dieu ka imah teh antum teh babakti, ditunjukkeun ku guru. Maka orang tuamu itu dua: orang tua yang melahirkan, dan orang tua yang mengasuh (guru).

5. Konsekuensi Pelanggaran

Awas kamu tong nguseup deui. Itu ada orang tua datang ke sini, kemudian bilang depan Murobbiah: "Ustaz, ana tuh punya saudara di sini. Anak saya mah jangan dikesiniin. Soalnya di sini katanya peraturannya kurang ketat."

Jelek. Munculnya nama antum, "Saha cenah eta teh? Eta teh Akbar cenah pokona mah, saudara saya tuh cenah." Cenah dia mah sok nguseup, meuleum lauk, pan beunang lauk, ih leutik euy alungkeun deui, padahal geus nguseup. Kamu tidak takut nanti di akhirat dicari sama ikan? "Neangan si Akbar!"

Bahkan kami tidak segan-segan, perhatikan, dulu ada angkatan siapa itu dikeluarkan langsung, padahal itu adalah anak guru. Karena melanggar, kita keluarkan, tidak akan segan-segan. Tapi mungkin antum akan termasuk kepada anak yang durhaka. Ingat-ingat, anak yang durhaka kepada orang tua hidupnya tidak akan ada bermanfaat di akhir hayat.

Itu saja yang dapat disampaikan. Ridhallah fi ridhal walidain, wa sukhtullah fi sukhtil walidain.
Astaghfirullahal 'adzim li wa lakum. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.